Daftar Rekening Paypal klik disini

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sunday, February 27, 2011

Biografi Daan Mogot

Penduduk Jakarta pasti sudah pernah mendengar nama sebuah jalan bernama Daan Mogot. Jalan yang terbentang dari perempatan Grogol hingga Tangerang. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa nama jalan Daan Mogot itu berasal dari sebuah nama seorang pemuda?

Pemuda belia itu bernama Elias Daniel Mogot. Daan Mogot adalah nama populer Elias Daniel Mogot. Pemuda ini cukup mengagumkan. Bayangkan ketika anak-anak saat ini yang berumur 14 tahun masih doyan main playstation ataupun ber-FB ria, ternyata saat umur 14 tahun Daan Mogot sudah ikut berperang.

Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928, ini dibawa oleh orang tuanya ke Batavia (Jakarta) saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut). Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Mayor Daan Mogot
Di umur 14 tahun (tahun 1942) Daan Mogot masuk PETA (Pembela Tanah Air) yaitu organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, walaupaun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Oleh prestasinya yang luar biasa ia diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Kemudian dipindahkan ke Batavia.

Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 16 tahun namun sudah berpangkat Mayor.

Malang tak dapat ditolak, saat ia berjuang membela negeri ini, ayahnya tewas dibunuh oleh para perampok yang menganggap “orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda. Kesedihannya itu ia sampaikan pada sepupunya Alex Kawilarang.

“Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex Kawilarang.

“Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” kata Daan Mogot. “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18 November 1945 bersama Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin. Dan Daan Mogot diangkat menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) saat ia berusia 17 tahun dengan calon Taruna pertama yang dilatih berjumlah ada 180 orang.

Hutan Lengkong - Serpong Tangerang

Pada tanggal 30 November 1945 dilakukan perundingan antara Indonesia dengan delegasi Sekutu. Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Agoes Salim yang didampingi oleh dua dua perwira TKR yaitu Mayor Wibowo dan Mayor Oetarjo. Sedangkan pihak Sekutu (Inggris), Brigadir ICA Lauder didampingi oleh Letkol Vanderpost (Afrika Selatan) dan Mayor West.

Pertemuan yang merupakan Meeting of Minds, menghasilkan ketetapan tentang pengambil-alihan primary objectives tentara Sekutu oleh TKR yang meliputi perlucutan senjata dan pemulangan 35 ribu tentara Jepang yang masih di Indonesia, pembebasan dan pemulangan Allied Prisoners of War and Internees (APWI) yang kebanyakan terdiri dari lelaki tua, wanita, dan anak-anak berkebangsaan Belanda dan Inggris sebanyak 36 ribu.

Berdasarkan kesepakatan 30 November 1945, tentara Sekutu tidak lagi memiliki alasan untuk memasuki wilayah kekuasaan Indonesia maupun menggunakan tentara Jepang untuk memerangi Indonesia dengan dalih mempertahankan status quo pra- Proklamasi. Perintah itu disampaikan oleh pihak Sekutu kepada Panglima Tentara Jepang Letjen Nagano.

Sekitar tanggal 5 Desember 1945 ditegaskan oleh Kolonel Yashimoto dari pimpinan tentara Jepang kepada pimpinan Kantor Penghubung TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo bahwa para komandan tentara Jepang setempat sesuai dengan keputusan pimpinan tentara Sekutu, telah diperintahkan tunduk kepada para komandan TKR setempat yang bertanggung jawab atas pemulangan mereka.

Namun pada tanggal 24 Januari 1946, Daan Mogot mendengar pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung. Dan bisa dipastikan mereka akan melakukan gerakan merebut senjata tentara Jepang di depot Lengkong.

Ini sangat berbahaya karena akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang. Untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang jatuh ke tangan sekutu, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha pada tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00. Ikut pula bersamanya beberapa orang perwira seperti Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer hasil rampasan dari Inggris, para prajurit berangkat dan sampai di markas Jepang Lengkong pukul 16.00 WIB. Di depan pintu gerbang, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dengan Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan taruna Alex Sajoeti (fasih bahasa Jepang) berjalan di depan. Pasukan taruna diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Kapten Abe, dari pihak Jepang, menerima ketiganya di dalam markas. Mendengar penjelasan maksud kedatangan mereka, Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta. Ia beralasan bahwa ia belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Saat perundingan berjalan, ternyata Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. 40 orang Jepang telah terkumpulkan di lapangan.

Namun entah mengapa, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Disusul tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Tentara Jepang yang berbaris di lapangan ikut pula memberikan perlawanan dengan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk milik TKR.

Terjadilah pertempuran yang tak seimbang, apalagi pengalaman tempur dan persenjataan para Taruna tak sebanding dsengan pihak Jepang. Taruna MAT menjadi sasaran empuk, diterjang oleh senapan mesin, lemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Ketika mendengar pecahnya pertempuran, Mayor Daan Mogot segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Mayor Daan Mogot bersama beberapa pasukannya menyingkir meninggalkan asrama tentara Jepang, memasuki hutan karet yang dikenal sebagai hutan Lengkong.


Namun Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran ini tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan persenjataan dan persediaan peluru yang amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Source: http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=390912


Biografi Daan Mogot

Penduduk Jakarta pasti sudah pernah mendengar nama sebuah jalan bernama Daan Mogot. Jalan yang terbentang dari perempatan Grogol hingga Tangerang. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa nama jalan Daan Mogot itu berasal dari sebuah nama seorang pemuda?

Pemuda belia itu bernama Elias Daniel Mogot. Daan Mogot adalah nama populer Elias Daniel Mogot. Pemuda ini cukup mengagumkan. Bayangkan ketika anak-anak saat ini yang berumur 14 tahun masih doyan main playstation ataupun ber-FB ria, ternyata saat umur 14 tahun Daan Mogot sudah ikut berperang.

Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928, ini dibawa oleh orang tuanya ke Batavia (Jakarta) saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut). Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Mayor Daan Mogot
Di umur 14 tahun (tahun 1942) Daan Mogot masuk PETA (Pembela Tanah Air) yaitu organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, walaupaun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Oleh prestasinya yang luar biasa ia diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Kemudian dipindahkan ke Batavia.

Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 16 tahun namun sudah berpangkat Mayor.

Malang tak dapat ditolak, saat ia berjuang membela negeri ini, ayahnya tewas dibunuh oleh para perampok yang menganggap “orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda. Kesedihannya itu ia sampaikan pada sepupunya Alex Kawilarang.

“Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex Kawilarang.

“Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” kata Daan Mogot. “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18 November 1945 bersama Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin. Dan Daan Mogot diangkat menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) saat ia berusia 17 tahun dengan calon Taruna pertama yang dilatih berjumlah ada 180 orang.

Hutan Lengkong - Serpong Tangerang

Pada tanggal 30 November 1945 dilakukan perundingan antara Indonesia dengan delegasi Sekutu. Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Agoes Salim yang didampingi oleh dua dua perwira TKR yaitu Mayor Wibowo dan Mayor Oetarjo. Sedangkan pihak Sekutu (Inggris), Brigadir ICA Lauder didampingi oleh Letkol Vanderpost (Afrika Selatan) dan Mayor West.

Pertemuan yang merupakan Meeting of Minds, menghasilkan ketetapan tentang pengambil-alihan primary objectives tentara Sekutu oleh TKR yang meliputi perlucutan senjata dan pemulangan 35 ribu tentara Jepang yang masih di Indonesia, pembebasan dan pemulangan Allied Prisoners of War and Internees (APWI) yang kebanyakan terdiri dari lelaki tua, wanita, dan anak-anak berkebangsaan Belanda dan Inggris sebanyak 36 ribu.

Berdasarkan kesepakatan 30 November 1945, tentara Sekutu tidak lagi memiliki alasan untuk memasuki wilayah kekuasaan Indonesia maupun menggunakan tentara Jepang untuk memerangi Indonesia dengan dalih mempertahankan status quo pra- Proklamasi. Perintah itu disampaikan oleh pihak Sekutu kepada Panglima Tentara Jepang Letjen Nagano.

Sekitar tanggal 5 Desember 1945 ditegaskan oleh Kolonel Yashimoto dari pimpinan tentara Jepang kepada pimpinan Kantor Penghubung TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo bahwa para komandan tentara Jepang setempat sesuai dengan keputusan pimpinan tentara Sekutu, telah diperintahkan tunduk kepada para komandan TKR setempat yang bertanggung jawab atas pemulangan mereka.

Namun pada tanggal 24 Januari 1946, Daan Mogot mendengar pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung. Dan bisa dipastikan mereka akan melakukan gerakan merebut senjata tentara Jepang di depot Lengkong.

Ini sangat berbahaya karena akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang. Untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang jatuh ke tangan sekutu, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha pada tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00. Ikut pula bersamanya beberapa orang perwira seperti Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer hasil rampasan dari Inggris, para prajurit berangkat dan sampai di markas Jepang Lengkong pukul 16.00 WIB. Di depan pintu gerbang, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dengan Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan taruna Alex Sajoeti (fasih bahasa Jepang) berjalan di depan. Pasukan taruna diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Kapten Abe, dari pihak Jepang, menerima ketiganya di dalam markas. Mendengar penjelasan maksud kedatangan mereka, Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta. Ia beralasan bahwa ia belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Saat perundingan berjalan, ternyata Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. 40 orang Jepang telah terkumpulkan di lapangan.

Namun entah mengapa, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Disusul tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Tentara Jepang yang berbaris di lapangan ikut pula memberikan perlawanan dengan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk milik TKR.

Terjadilah pertempuran yang tak seimbang, apalagi pengalaman tempur dan persenjataan para Taruna tak sebanding dsengan pihak Jepang. Taruna MAT menjadi sasaran empuk, diterjang oleh senapan mesin, lemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Ketika mendengar pecahnya pertempuran, Mayor Daan Mogot segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Mayor Daan Mogot bersama beberapa pasukannya menyingkir meninggalkan asrama tentara Jepang, memasuki hutan karet yang dikenal sebagai hutan Lengkong.


Namun Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran ini tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan persenjataan dan persediaan peluru yang amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Source: http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=390912


Thursday, January 27, 2011

Biografi Kim Jong Il

Kim Jong Il, pemimpin tertinggi Korea Utara ini dilahirkan pada 16 Pebruari, 1942 di Khabarovsk, Rusia. (Korea Utara mengklaim bahwa dia dilahir di tempat persembunyian militer di gunung Bakdu, distrik Samjiwon propinsi Yang Gang).

Kim Jong-il adalah pemimpin terkuat dan tertinggi di Korea Utara setelah masa ayahnya, Kim Il-sung. Dia memiliki serangkaian jabatan inti dengan sekaligus termasuk sekretariat umum partai buruh , ketua komite pertanahan nasional, panglima tertinggi pasukan militer Korea Utara, anggota tetap senior dalam komite sentral partai buruh, anggota militer sentral partai buruh, anggota dewan perwakilan rakyat tertinggi, dan lain lain.

Setelah ditetapkan sebagai pewaris ayahnya menjelang pertengahan 1970an, dia mulai tampil di pusat panggung politik dengan menjabat posisi utama seperti sekretariat komite sentral partai buruh dan anggota komite sentral bagian politik dalam partai buruh.

Pada tahun 1990, Kim Jong-il secara de fakto menjadi ranking ke-2 dalam deretan kekuatan dengan dilantik sebagai wakil ketua komite pertahanan nasional, kemudian tahun 1991, dia menjabat sebagai panglima tertinggi pasukan rakyat Korea. Hingga proses persiapan pewarisan Kim Jong-il selesai saat dia menjadi ketua komite pertahaan nasional pada tahun 1993.
Dia mengatasi krisis setelah kematian Kim Il-sung sepanjang 3 tahun dengan sistem ‘pemerintahan oleh ajaran dan pikiran ayahnya’ dari mulai 1994. Dengan menjabat sebagai sekretaris umum partai buruh Korea tahun 1997, era Kim Jong-il dimulai secara nyata.

Kim Jong-il dikenal memiliki hobi khususnya pada perfilman. Sifatnya aktif dan pandai bicara. Dia memanfaatkan slogan ‘kebijakan yang mengutamakan militer’ untuk menguatkan pondasi politiknya secara kokoh. Walaupun Kim Jong-il menaruh perhatian pada penerapan faktor ekonomi pasar pada perekonomian mereka, tetapi masih diragukan bagaimana negara komunis itu menerapkan sistem ekonomi mereka dalam keadaan kekurangan infrastruktur dan kekurangan pangan kronis.

Desas-desus terkait kelahiran Kim Jong-il

Secara garis besar ada 3 versi tentang tempat lahirnya Kim Jong-il. Alasan mengapa tempat asalnya diisukan, adalah lataran masalah itu langsung terkait dengan pembenaran pewarisan kekuatannya. Seluruh sejarah modern Korea Utara direvisi dengan sejarah yang bertujuan membenarkan sistem kekuatan tunggal, Kim il-sung, dan menggunakan sejarah yang sulit ditemui fakta-faktanya itu sebagai landasan dasar untuk membenarkan tindakan pewarisan kekuatannya kepada anaknya, Kim Jong-il.

Oleh karena itu, cerita tentang tempat lahirnya harus memiliki unsur mitos yang dramatis dan agung untuk membuat semua orang menganggap dia sebagai pahlawan atau pemimin mereka di masa depan. Korea Utara mengklaim, Kim Jong-il dilahirkan di tempat tersembunyi di gunung Baekdu pada saat perang, yang sekarang menjadi tempat suci untuk ziarah (khususnya pemuda) orang Korea Utara.

Tetapi, pandangan dominan adalah bahwa tempat lahir sebenarnya adalah Viatsk, 60 Km dari Khabarovsk, dimana ada tempat markas besar brigade khusus ke-88 militer Rusia. Cerita ketiga mengklaim bahwa dia dilahirkan di rumah sakit Soviet di Harmatan, di daerah yang terletak 500 km selatan dari Viatsk dan terdapat di tengah antara Vladivostok dan Bolosilov. Cerita tentang Kim Jong-il yang kontroversial itu bertujuan untuk menekankan upaya perjuangan anti kolonial Jepang dalam marga Kim Il-sung dan Kim Jong il yang dilahirkan di tengah sejarah perjuangan dramatis itu cukup memiliki kemampuan sebagai pemimpin di masa depan.

Masa kecil


Kim Jong-il yang masih kecil dan ibunya, Kim Jung-sook(tengah)"

Walaupun Kim Jong-il menikmati kehidupan enak sejak lahir sebagai anak pemimpin tertinggi Korea Utara, dia menderita tragedi dengan kehilangan adik dan ibunya pada tahun 1948 dan 1949. Perang Korea memaksa Kim sering pindah dari satu sekolah ke sekolah lain selama pendidikan sekolah dasar. Pada tahun 1960, Kim tamat dari sekolah menengah Namsan, sebagian besar dihadiri oleh anak tokoh kelas tinggi di Korea Utara.

Saat dia masih di sekolah Namsan, dia mengikuti ayahnya ke Moskow untuk mengunjungi sidang Partai Komunis Soviet ke-21 pada Januari 1959. Kim Jong-il nampaknya menaruh perhatian besar pada politik pada masa itu, dan aspirasi untuk naik ke kekuatan di masa depan. Dia menghabiskan banyak waktu untuk membantu pekerjaan ayahnya dan juga suka menerima pengarahan laporan dari asisten ayahnya tentang keadaan politik dan segalanya. Menurut seorang tokoh yang mengenal dia pada waktu kecil secara personal (seperti mantan sekretariat partai buruh, Hwang Jang –Yup), dia sangat pintar dan memiliki keingintahuan yang besar.

Masa percobaan


Kim Jong-Il dilantik sebagai anggota tetap Badan Politik Komite Sentral Partai Buruh pada tahun 1980.

Secara langsung setelah tamat dari jurusan ekonomi politik di Universitas Kim Il-sung 1964, Kim Jong-il mulai memperoleh pengalamanan politik dengan berpartisipasi dalam proyek Komite Sentral Partai Buruh sebagai direktur bagian organisasi. Jabatannya naik setiap dua tahun, pada tahun 1967 dia dilantik sebagai kepala bagian propaganda dan keterangan kebijakan politik nasional, kemudian dia menjadi wakil ketua pada tahun 1969. Pada tahun 1971, dia menjadi ketua Badan Seni dan Budaya, kemudian 1973, dia dipilih menjadi sekretaris bagian propadanda merangkap ketua badan organisasi ( dalam pertemuan tertutup di Komite Sentral Partai Buruh pada September). Menjelang waktu itu, dia tampil sebagai pewaris ayahnya, Kil il-sung.

Kim Jong-Il dilantik sebagai anggota tetap Badan Politik Komite Sentral Partai Buruh pada tahun 1980. Pada Pebruari 1974, sidang paripurna ke-8 Komite Sentral Partai Buruh tahap ke-5, Kim Jong-il dilantik sebagai anggota Badan Politik Komite Sentral (politburo), dan sidang itu juga mengambil keputusan “ mengangkat pemimpin Kim Jong-il yang terhormat sebagi pewaris pemimpin agung yang mulia Kim Il-sung”. Setelah hari itu, Kim Jong-il tidak pernah disebut dengan nama aslinya tetapi sebagai ‘pusat partai ‘. Pada Pebruari 1975, sidang paripurma ke-10 Komite Sentral Partai Buruh sepakat secara bulat tentang panggilan Kim Jong-il sebagai ‘pemimpin yang terhormat’. Hal itu berarti Kim Jong-il memiliki posisi yang kokoh sebagai pewaris.

Pada sistem Korea Utara, kekuatan datang dari partai. Khususnya, urusan merancang organisasi dan propaganda merupakan inti kegiatan partai komunis. Kim Jong-il menyiapkan pewarisannya melalui pengambilan pejabat urusan inti dalam partai buruh. Oleh karena it, dapat dikatakan bahwa proses pewarisan itu dilaksanakan selama 20 tahun .

Satuan khusus untuk revolusi

Para penari Korea Utara mengadakan pertunjukan yang bertema ‘satuan tugas untuk revolusi

Adalah nama organisasi inti maupun sekaligus berarti sebuah gerakan, yang memainkan peranan penting dalam proses pengukuhan kekuasaan Kim Jong-il. Berdasarkan amanat Kim Il-sung pada 13 Februari 1973, Kim Jong-il dilantik sebagai penasehat orgaisasi itu pada September tahun yang sama.
Satuan khusus untuk revolusi adalah tim utama yang terdiri atas pemuda intelektual dari partai. Mereka dikirim ke semua sektor instansi nasional sebagai pengawas dengan tugas untuk mengatasi konservatisme, mannerisme, dan bentuk pikiran terbelakang di organisasi setempat, dan mendorong pembaruan(revolusi) 3 bidang (ideologi, teknologi dan budaya).

Dengan kewenangan untuk mengontrol, inspeksi dan mengawasi, anggota satuan tugas itu turun ke badan instansi pemerintah dan badan lain. Peranan utama mereka adalah langsung melapor kepada komite sentral partai tentang kegiatan organisasi setempat. Oleh karena itu, tim khusus itu digunakan oleh Kim Jong-il untuk menguasai semua instansi nasional dan menyampaikan amanatnya ke seluruh sektor secara efisien. Melalui itu dia bisa mengumpulkan informasi dan memberikan amanat. Dia dapat dengan cepat mengotrol organisasi partai, menggunakan tim itu sebagai pondasi yang kuat bagi kekuatan politiknya.

Proses untuk menguasai kekuasaan oleh Kim Jong-il
Kim Jong-il menginspeksi parade pasukan militer, 1997

Penampilan pertama Kim Jong-il di panggung politik secara resmi terjadi pada Oktober 1980 dalam sidang partai buruh ke-6. Pada hari itu, dia dipilih sebagai kader Politbiro politik, sekretaris Badan Sekretariat, dan anggota Komite Militer. Memegang jabatan di Badan Politbiro merangkap Badan Sekretariat membuat dia paling kuat di komite sentral, da mulai memegang kubu militer sebagai anggota komite militer.

Kim Jong-il memulai kegiatan diplomatik tingkat puncak selama tahun 1983 dengan mengunjungi RRC , dan bertukar kartu Tahun Baru dengan pejabat tinggi Cina dan Soviet sejak 1986. Istilah ‘kepemimpinan dalam kunjungan di lapangan’ sebelumnya hanya boleh disebutkan bagi kegiatan Kim Il-sung, mulai digunakan untuk Kim Jong-il sejak tahun 1988.

Kim Jong-il 1990 dilantik sebagai wakil ketua divisi pertama Komite Anggota Pertahanan (ayahnya Kim il-sung adalah ketua), kemudian , 1991 dilantik sebagai panglima tertinggi pasukan militer Korea Utara dan 1993 terpilih sebagai ketua komite pertahanan maka dia menguasai secara nyata seluruh kekuatan kubu militer dan kekuatan nasional dengan sekaligus melalui serangkaian proses. Dan memang ada dukungan penuh dari ayahnya pada setiap proses itu.

Pemerintahan negara dengan nasehat almarhum

Selama proses berjalan, Kim Il-sung meninggal tahun 1994. Pekerjaan untuk mewariskan kekuasaan ke anaknya memang bisa dilanjutkan. Tetapi pewarisan kekuasaan itu masih ditantang karena pewarisan kekuasaan tertinggi dari ayah ke anaknya dulunya tidak ada di negara komunis lainnya. Sehingga bagi Kim Jong-il, kematian Kim Il-sung adalah krisis politik amat besar. Di tingkat nasional, kasus itu juga bisa mengancam sistem rejim. Namun, Kim Jong-il mengatasi krisis ini dengan cara yang rinci dan rumit, yakni mencanangkan ‘pemerintahan negaranya dengan memanfaatkan nasehat almarhum (ayahnya)’. Melestarikan kekuatan lewat pengaruh kepemimpinan Kim Il-sung yang penuh karisma dan memanfaatkan budaya budi pekerti tradisional Timur yang menghormati orang tua, Kim Jong-il mengkokohkan kekuatannya sambil terus meningkatkan integrasi rejim.

‘Pemerintahan negara dengan nasehat almarhum’ yang dilaksanakan selama 3 tahun itu berhubungan erat dengan periode bela sungkawa tradisional Korea selama 3 tahun yang dilaksanakan saat orang tua meninggal.

http://findnewstoday.com/wp-content/uploads/2010/08/kim_jong_il_a_0406.jpg

http://assets.nydailynews.com/img/2009/06/02/alg_kim-jong-il.jpg

http://www.thewashingtonnote.com/twn_up_fls/kim-jong-il.jpg

Era Kim Jong-il diluncurkan secara resmi setelah dia dipilih sebagai sekretaris umum partai buruh Oktober 1997, dan pada 1998 terpilih kembali sebagai ketua komite pertahanan , dan revisi UU di dalam sesi pertemuan Dewan Perwakilan Rakyat Tertinggi tahap ke-10. ( Kematian Kim Il-sung dan ‘pemerintahan negara oleh nasehat almarhum’)
3 slogan utama Kepemimpinan Kim jong il

Di antara 3 slogan utama kepemimpinan Kim Jong-il, slogan ‘memimpin dengan budi’ dan ‘dengan merangkul semua’ adalah istilah yang digunakan untuk menekan daya kepemimpinan Kim Jong-il, dan slogan ‘kebijakan mengutamakan militer ‘bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan pembangunan ekonomi nasional dengan memanfaatkan secara penuh kekuatan militer sehingga menyumbang untuk kesejahteraan rakyat.

Memimpin dengan budi

Ekspresi pertama tentang hal itu muncul pada 28 Januari 1993 yang diterbitkan harian partai buruh, Nodong Shimmun, sebagai bagian artikel berjudul ” hidup panjang revolusi sosialis, dimana memimpin dengan budi dilaksanakan!”. Menurut harian itu, slogan itu berarti memimpin rakyat yang merupakan sumber kekuatan, berdasarkan penuh cinta dan kepercayaan , dan Kim Jong-il memimpin rakyat dengan cara yang terbaik dengan rasa penuh cinta . Kim Jong-il sendiri menekankan ‘memimpin dengan budi’ dalam tesisnya 1994 berjudul “sosialime adalah ilmu pengetahuan”,. Hingga sejak itu slogan itu dipromosikan melalui semua media.

Memimpin dengan merangkul semua

Istilah itu sangat berhubungan erat dengan gaya memimpin dengan budi. Menurut definisi Korea Utara, itu adalah “sebuah bentuk kepemimpinan yang merangkul semua rakyat secara keseluruhan’, tanpa mengecualikan rakyat yang terabaikan, tetapi secara hangat merangkul mereka sebagai mitra yang sama untuk menuju jalan reformasi’. Secara ringkas, ekspresi itu bertujuan untuk menekankan kemampuan kepemimpinan Kim Jong-il yang memiliki tekad dan hati yang luas.

Politik mengutamakan militer

Semboyan, ‘militer yang utama’, merupakan ideologi kepemimpinan inti dalam era Kim Jong-il. Boleh dikatakan, itu adalah strategi praktis untuk mewujudkan pokok pikiran Juche, bukan slogan yang menggantikan pokok pikiran Juche. Mempertimbangkan kubu militer adalah satu satunya organisasi paling efisien dan memiliki kemampuan besar di Korea Utara , maka Kim Jong-il tidak memiliki pilihan, untuk mengutakan ‘militer’ sebagai sumber kepemimpinannya dan kebijakannya karena hal itu sangat wajar.
(Era Kim Jong-il – Kebijakan mengutamakan militer)

Kebijakan Kim Jong-il

Krisis rejim Korea Utara menjadi lebih serius karena kesulitan ekonomi dan kekurangan pangan. Untuk mempersiapkan motivasi untuk mengintegrasi rakyat, Kim Jong-il merancang kebijakan dengan inspirasi dari gerakan masa lalu dalam sejarah. Yakni gerakan bernama ‘parade kesulitan” slogan perjuangan anti-Jepang, yang diperkenalkan untuk mengerahkan rakyat dalam rangka mengatasi situasi dimana ekonomi memburuk dan kekurangan pangan hingga ratusan ribu orang mati akibat kelaparan. Era Kim Jong-il secara nyata mulai stabil hanya setelah tahun 2000 dengan mengumumkan bahwa ‘parade kesulitan” berakhir. Setelah melihat suasana RRC yang mengalami liberalisasi dan keterbukaan ekonomi dalam kunjungannya ke Cina, Kim Jong-il menyatakan bahwa “seluruhnya berubah total” . Setelah itu, Kim Jong-il mendorong proyek zona ekonomi Shineuiju(Mencari jalan ekonomi baru dan zona ekonomi Shineuju)dan ‘reformasi ekonomi 1 Juli” (Tindakan reformasi ekonomi 1 Juli)

Upaya negosiasi Korea Utara yang melibatkan krisis nuklirnya tahap kedua itu bisa diterjemahkan sebagai salah satu strategi Pyongyang untuk menjaga rejimnya, bersama dengan kebijakan untuk mencari jalan reformasi dan keterbukaan ekonominya. Hubungan Korea Utara dan AS yang terbentuk pada masa akhir Kim Il-sung menghadapi era perubahan dengan dilantiknya presiden Bush. Di tengah itu, rencana program pengembangan senjata nuklir Korea Utara secara rahasia terbongkar dan kasus itu mengakibatkan krisis nuklir putaran kedua. Krisis itu dipandang sebagai permainan yang sangat beresiko dan nekat yang dilakukan Kim Jong-il untuk tujuan menjaga rejimnya.

http://www.adipedia.com/2010/11/biografi-kim-jong-il-dari-kecil-hingga.html

Biografi Kim Jong Il

Kim Jong Il, pemimpin tertinggi Korea Utara ini dilahirkan pada 16 Pebruari, 1942 di Khabarovsk, Rusia. (Korea Utara mengklaim bahwa dia dilahir di tempat persembunyian militer di gunung Bakdu, distrik Samjiwon propinsi Yang Gang).

Kim Jong-il adalah pemimpin terkuat dan tertinggi di Korea Utara setelah masa ayahnya, Kim Il-sung. Dia memiliki serangkaian jabatan inti dengan sekaligus termasuk sekretariat umum partai buruh , ketua komite pertanahan nasional, panglima tertinggi pasukan militer Korea Utara, anggota tetap senior dalam komite sentral partai buruh, anggota militer sentral partai buruh, anggota dewan perwakilan rakyat tertinggi, dan lain lain.

Setelah ditetapkan sebagai pewaris ayahnya menjelang pertengahan 1970an, dia mulai tampil di pusat panggung politik dengan menjabat posisi utama seperti sekretariat komite sentral partai buruh dan anggota komite sentral bagian politik dalam partai buruh.

Pada tahun 1990, Kim Jong-il secara de fakto menjadi ranking ke-2 dalam deretan kekuatan dengan dilantik sebagai wakil ketua komite pertahanan nasional, kemudian tahun 1991, dia menjabat sebagai panglima tertinggi pasukan rakyat Korea. Hingga proses persiapan pewarisan Kim Jong-il selesai saat dia menjadi ketua komite pertahaan nasional pada tahun 1993.
Dia mengatasi krisis setelah kematian Kim Il-sung sepanjang 3 tahun dengan sistem ‘pemerintahan oleh ajaran dan pikiran ayahnya’ dari mulai 1994. Dengan menjabat sebagai sekretaris umum partai buruh Korea tahun 1997, era Kim Jong-il dimulai secara nyata.

Kim Jong-il dikenal memiliki hobi khususnya pada perfilman. Sifatnya aktif dan pandai bicara. Dia memanfaatkan slogan ‘kebijakan yang mengutamakan militer’ untuk menguatkan pondasi politiknya secara kokoh. Walaupun Kim Jong-il menaruh perhatian pada penerapan faktor ekonomi pasar pada perekonomian mereka, tetapi masih diragukan bagaimana negara komunis itu menerapkan sistem ekonomi mereka dalam keadaan kekurangan infrastruktur dan kekurangan pangan kronis.

Desas-desus terkait kelahiran Kim Jong-il

Secara garis besar ada 3 versi tentang tempat lahirnya Kim Jong-il. Alasan mengapa tempat asalnya diisukan, adalah lataran masalah itu langsung terkait dengan pembenaran pewarisan kekuatannya. Seluruh sejarah modern Korea Utara direvisi dengan sejarah yang bertujuan membenarkan sistem kekuatan tunggal, Kim il-sung, dan menggunakan sejarah yang sulit ditemui fakta-faktanya itu sebagai landasan dasar untuk membenarkan tindakan pewarisan kekuatannya kepada anaknya, Kim Jong-il.

Oleh karena itu, cerita tentang tempat lahirnya harus memiliki unsur mitos yang dramatis dan agung untuk membuat semua orang menganggap dia sebagai pahlawan atau pemimin mereka di masa depan. Korea Utara mengklaim, Kim Jong-il dilahirkan di tempat tersembunyi di gunung Baekdu pada saat perang, yang sekarang menjadi tempat suci untuk ziarah (khususnya pemuda) orang Korea Utara.

Tetapi, pandangan dominan adalah bahwa tempat lahir sebenarnya adalah Viatsk, 60 Km dari Khabarovsk, dimana ada tempat markas besar brigade khusus ke-88 militer Rusia. Cerita ketiga mengklaim bahwa dia dilahirkan di rumah sakit Soviet di Harmatan, di daerah yang terletak 500 km selatan dari Viatsk dan terdapat di tengah antara Vladivostok dan Bolosilov. Cerita tentang Kim Jong-il yang kontroversial itu bertujuan untuk menekankan upaya perjuangan anti kolonial Jepang dalam marga Kim Il-sung dan Kim Jong il yang dilahirkan di tengah sejarah perjuangan dramatis itu cukup memiliki kemampuan sebagai pemimpin di masa depan.

Masa kecil


Kim Jong-il yang masih kecil dan ibunya, Kim Jung-sook(tengah)"

Walaupun Kim Jong-il menikmati kehidupan enak sejak lahir sebagai anak pemimpin tertinggi Korea Utara, dia menderita tragedi dengan kehilangan adik dan ibunya pada tahun 1948 dan 1949. Perang Korea memaksa Kim sering pindah dari satu sekolah ke sekolah lain selama pendidikan sekolah dasar. Pada tahun 1960, Kim tamat dari sekolah menengah Namsan, sebagian besar dihadiri oleh anak tokoh kelas tinggi di Korea Utara.

Saat dia masih di sekolah Namsan, dia mengikuti ayahnya ke Moskow untuk mengunjungi sidang Partai Komunis Soviet ke-21 pada Januari 1959. Kim Jong-il nampaknya menaruh perhatian besar pada politik pada masa itu, dan aspirasi untuk naik ke kekuatan di masa depan. Dia menghabiskan banyak waktu untuk membantu pekerjaan ayahnya dan juga suka menerima pengarahan laporan dari asisten ayahnya tentang keadaan politik dan segalanya. Menurut seorang tokoh yang mengenal dia pada waktu kecil secara personal (seperti mantan sekretariat partai buruh, Hwang Jang –Yup), dia sangat pintar dan memiliki keingintahuan yang besar.

Masa percobaan


Kim Jong-Il dilantik sebagai anggota tetap Badan Politik Komite Sentral Partai Buruh pada tahun 1980.

Secara langsung setelah tamat dari jurusan ekonomi politik di Universitas Kim Il-sung 1964, Kim Jong-il mulai memperoleh pengalamanan politik dengan berpartisipasi dalam proyek Komite Sentral Partai Buruh sebagai direktur bagian organisasi. Jabatannya naik setiap dua tahun, pada tahun 1967 dia dilantik sebagai kepala bagian propaganda dan keterangan kebijakan politik nasional, kemudian dia menjadi wakil ketua pada tahun 1969. Pada tahun 1971, dia menjadi ketua Badan Seni dan Budaya, kemudian 1973, dia dipilih menjadi sekretaris bagian propadanda merangkap ketua badan organisasi ( dalam pertemuan tertutup di Komite Sentral Partai Buruh pada September). Menjelang waktu itu, dia tampil sebagai pewaris ayahnya, Kil il-sung.

Kim Jong-Il dilantik sebagai anggota tetap Badan Politik Komite Sentral Partai Buruh pada tahun 1980. Pada Pebruari 1974, sidang paripurna ke-8 Komite Sentral Partai Buruh tahap ke-5, Kim Jong-il dilantik sebagai anggota Badan Politik Komite Sentral (politburo), dan sidang itu juga mengambil keputusan “ mengangkat pemimpin Kim Jong-il yang terhormat sebagi pewaris pemimpin agung yang mulia Kim Il-sung”. Setelah hari itu, Kim Jong-il tidak pernah disebut dengan nama aslinya tetapi sebagai ‘pusat partai ‘. Pada Pebruari 1975, sidang paripurma ke-10 Komite Sentral Partai Buruh sepakat secara bulat tentang panggilan Kim Jong-il sebagai ‘pemimpin yang terhormat’. Hal itu berarti Kim Jong-il memiliki posisi yang kokoh sebagai pewaris.

Pada sistem Korea Utara, kekuatan datang dari partai. Khususnya, urusan merancang organisasi dan propaganda merupakan inti kegiatan partai komunis. Kim Jong-il menyiapkan pewarisannya melalui pengambilan pejabat urusan inti dalam partai buruh. Oleh karena it, dapat dikatakan bahwa proses pewarisan itu dilaksanakan selama 20 tahun .

Satuan khusus untuk revolusi

Para penari Korea Utara mengadakan pertunjukan yang bertema ‘satuan tugas untuk revolusi

Adalah nama organisasi inti maupun sekaligus berarti sebuah gerakan, yang memainkan peranan penting dalam proses pengukuhan kekuasaan Kim Jong-il. Berdasarkan amanat Kim Il-sung pada 13 Februari 1973, Kim Jong-il dilantik sebagai penasehat orgaisasi itu pada September tahun yang sama.
Satuan khusus untuk revolusi adalah tim utama yang terdiri atas pemuda intelektual dari partai. Mereka dikirim ke semua sektor instansi nasional sebagai pengawas dengan tugas untuk mengatasi konservatisme, mannerisme, dan bentuk pikiran terbelakang di organisasi setempat, dan mendorong pembaruan(revolusi) 3 bidang (ideologi, teknologi dan budaya).

Dengan kewenangan untuk mengontrol, inspeksi dan mengawasi, anggota satuan tugas itu turun ke badan instansi pemerintah dan badan lain. Peranan utama mereka adalah langsung melapor kepada komite sentral partai tentang kegiatan organisasi setempat. Oleh karena itu, tim khusus itu digunakan oleh Kim Jong-il untuk menguasai semua instansi nasional dan menyampaikan amanatnya ke seluruh sektor secara efisien. Melalui itu dia bisa mengumpulkan informasi dan memberikan amanat. Dia dapat dengan cepat mengotrol organisasi partai, menggunakan tim itu sebagai pondasi yang kuat bagi kekuatan politiknya.

Proses untuk menguasai kekuasaan oleh Kim Jong-il
Kim Jong-il menginspeksi parade pasukan militer, 1997

Penampilan pertama Kim Jong-il di panggung politik secara resmi terjadi pada Oktober 1980 dalam sidang partai buruh ke-6. Pada hari itu, dia dipilih sebagai kader Politbiro politik, sekretaris Badan Sekretariat, dan anggota Komite Militer. Memegang jabatan di Badan Politbiro merangkap Badan Sekretariat membuat dia paling kuat di komite sentral, da mulai memegang kubu militer sebagai anggota komite militer.

Kim Jong-il memulai kegiatan diplomatik tingkat puncak selama tahun 1983 dengan mengunjungi RRC , dan bertukar kartu Tahun Baru dengan pejabat tinggi Cina dan Soviet sejak 1986. Istilah ‘kepemimpinan dalam kunjungan di lapangan’ sebelumnya hanya boleh disebutkan bagi kegiatan Kim Il-sung, mulai digunakan untuk Kim Jong-il sejak tahun 1988.

Kim Jong-il 1990 dilantik sebagai wakil ketua divisi pertama Komite Anggota Pertahanan (ayahnya Kim il-sung adalah ketua), kemudian , 1991 dilantik sebagai panglima tertinggi pasukan militer Korea Utara dan 1993 terpilih sebagai ketua komite pertahanan maka dia menguasai secara nyata seluruh kekuatan kubu militer dan kekuatan nasional dengan sekaligus melalui serangkaian proses. Dan memang ada dukungan penuh dari ayahnya pada setiap proses itu.

Pemerintahan negara dengan nasehat almarhum

Selama proses berjalan, Kim Il-sung meninggal tahun 1994. Pekerjaan untuk mewariskan kekuasaan ke anaknya memang bisa dilanjutkan. Tetapi pewarisan kekuasaan itu masih ditantang karena pewarisan kekuasaan tertinggi dari ayah ke anaknya dulunya tidak ada di negara komunis lainnya. Sehingga bagi Kim Jong-il, kematian Kim Il-sung adalah krisis politik amat besar. Di tingkat nasional, kasus itu juga bisa mengancam sistem rejim. Namun, Kim Jong-il mengatasi krisis ini dengan cara yang rinci dan rumit, yakni mencanangkan ‘pemerintahan negaranya dengan memanfaatkan nasehat almarhum (ayahnya)’. Melestarikan kekuatan lewat pengaruh kepemimpinan Kim Il-sung yang penuh karisma dan memanfaatkan budaya budi pekerti tradisional Timur yang menghormati orang tua, Kim Jong-il mengkokohkan kekuatannya sambil terus meningkatkan integrasi rejim.

‘Pemerintahan negara dengan nasehat almarhum’ yang dilaksanakan selama 3 tahun itu berhubungan erat dengan periode bela sungkawa tradisional Korea selama 3 tahun yang dilaksanakan saat orang tua meninggal.

http://findnewstoday.com/wp-content/uploads/2010/08/kim_jong_il_a_0406.jpg

http://assets.nydailynews.com/img/2009/06/02/alg_kim-jong-il.jpg

http://www.thewashingtonnote.com/twn_up_fls/kim-jong-il.jpg

Era Kim Jong-il diluncurkan secara resmi setelah dia dipilih sebagai sekretaris umum partai buruh Oktober 1997, dan pada 1998 terpilih kembali sebagai ketua komite pertahanan , dan revisi UU di dalam sesi pertemuan Dewan Perwakilan Rakyat Tertinggi tahap ke-10. ( Kematian Kim Il-sung dan ‘pemerintahan negara oleh nasehat almarhum’)
3 slogan utama Kepemimpinan Kim jong il

Di antara 3 slogan utama kepemimpinan Kim Jong-il, slogan ‘memimpin dengan budi’ dan ‘dengan merangkul semua’ adalah istilah yang digunakan untuk menekan daya kepemimpinan Kim Jong-il, dan slogan ‘kebijakan mengutamakan militer ‘bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan pembangunan ekonomi nasional dengan memanfaatkan secara penuh kekuatan militer sehingga menyumbang untuk kesejahteraan rakyat.

Memimpin dengan budi

Ekspresi pertama tentang hal itu muncul pada 28 Januari 1993 yang diterbitkan harian partai buruh, Nodong Shimmun, sebagai bagian artikel berjudul ” hidup panjang revolusi sosialis, dimana memimpin dengan budi dilaksanakan!”. Menurut harian itu, slogan itu berarti memimpin rakyat yang merupakan sumber kekuatan, berdasarkan penuh cinta dan kepercayaan , dan Kim Jong-il memimpin rakyat dengan cara yang terbaik dengan rasa penuh cinta . Kim Jong-il sendiri menekankan ‘memimpin dengan budi’ dalam tesisnya 1994 berjudul “sosialime adalah ilmu pengetahuan”,. Hingga sejak itu slogan itu dipromosikan melalui semua media.

Memimpin dengan merangkul semua

Istilah itu sangat berhubungan erat dengan gaya memimpin dengan budi. Menurut definisi Korea Utara, itu adalah “sebuah bentuk kepemimpinan yang merangkul semua rakyat secara keseluruhan’, tanpa mengecualikan rakyat yang terabaikan, tetapi secara hangat merangkul mereka sebagai mitra yang sama untuk menuju jalan reformasi’. Secara ringkas, ekspresi itu bertujuan untuk menekankan kemampuan kepemimpinan Kim Jong-il yang memiliki tekad dan hati yang luas.

Politik mengutamakan militer

Semboyan, ‘militer yang utama’, merupakan ideologi kepemimpinan inti dalam era Kim Jong-il. Boleh dikatakan, itu adalah strategi praktis untuk mewujudkan pokok pikiran Juche, bukan slogan yang menggantikan pokok pikiran Juche. Mempertimbangkan kubu militer adalah satu satunya organisasi paling efisien dan memiliki kemampuan besar di Korea Utara , maka Kim Jong-il tidak memiliki pilihan, untuk mengutakan ‘militer’ sebagai sumber kepemimpinannya dan kebijakannya karena hal itu sangat wajar.
(Era Kim Jong-il – Kebijakan mengutamakan militer)

Kebijakan Kim Jong-il

Krisis rejim Korea Utara menjadi lebih serius karena kesulitan ekonomi dan kekurangan pangan. Untuk mempersiapkan motivasi untuk mengintegrasi rakyat, Kim Jong-il merancang kebijakan dengan inspirasi dari gerakan masa lalu dalam sejarah. Yakni gerakan bernama ‘parade kesulitan” slogan perjuangan anti-Jepang, yang diperkenalkan untuk mengerahkan rakyat dalam rangka mengatasi situasi dimana ekonomi memburuk dan kekurangan pangan hingga ratusan ribu orang mati akibat kelaparan. Era Kim Jong-il secara nyata mulai stabil hanya setelah tahun 2000 dengan mengumumkan bahwa ‘parade kesulitan” berakhir. Setelah melihat suasana RRC yang mengalami liberalisasi dan keterbukaan ekonomi dalam kunjungannya ke Cina, Kim Jong-il menyatakan bahwa “seluruhnya berubah total” . Setelah itu, Kim Jong-il mendorong proyek zona ekonomi Shineuiju(Mencari jalan ekonomi baru dan zona ekonomi Shineuju)dan ‘reformasi ekonomi 1 Juli” (Tindakan reformasi ekonomi 1 Juli)

Upaya negosiasi Korea Utara yang melibatkan krisis nuklirnya tahap kedua itu bisa diterjemahkan sebagai salah satu strategi Pyongyang untuk menjaga rejimnya, bersama dengan kebijakan untuk mencari jalan reformasi dan keterbukaan ekonominya. Hubungan Korea Utara dan AS yang terbentuk pada masa akhir Kim Il-sung menghadapi era perubahan dengan dilantiknya presiden Bush. Di tengah itu, rencana program pengembangan senjata nuklir Korea Utara secara rahasia terbongkar dan kasus itu mengakibatkan krisis nuklir putaran kedua. Krisis itu dipandang sebagai permainan yang sangat beresiko dan nekat yang dilakukan Kim Jong-il untuk tujuan menjaga rejimnya.

http://www.adipedia.com/2010/11/biografi-kim-jong-il-dari-kecil-hingga.html

Monday, January 17, 2011

Biografi Bunda Teresa

Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India.Dilahirkan di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary’s High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling.

Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai “Hari Penuh Inspirasi” oleh Bunda Teresa.

Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.

Bunda Teresa bersama anak-anak

Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja.

Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Diinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.

Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.

Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.

Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize.

Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.

http://www.adipedia.com/profil-biografi-bunda-mother-teresa/

Biografi Bunda Teresa

Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India.Dilahirkan di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary’s High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling.

Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai “Hari Penuh Inspirasi” oleh Bunda Teresa.

Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.

Bunda Teresa bersama anak-anak

Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja.

Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Diinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.

Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.

Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.

Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize.

Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.

http://www.adipedia.com/profil-biografi-bunda-mother-teresa/

Biografi Plato

Filosof Yunani kuno Plato tak pelak lagi cikal bakal filosof politik Barat dan sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak pelak lagi, Plato berkedudukan bagai bapak moyangnya pemikir Barat,

Plato dilahirkan dari kalangan famili Athena kenamaan sekitar tahun 427 SM. Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Tahun 399 SM, tatkala Socrates berumur tujuh puluh tahun, dia diseret ke pengadilan dengan tuduhan tak berdasar berbuat brengsek dan merusak akhlak angkatan muda Athena. Socrates dikutuk, dihukum mati. Pelaksanaan hukum mati Socrates –yang disebut Plato “orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal”– membikin Plato benci kepada pemerintahan demokratis.

Tak lama sesudah Socrates mati, Plato pergi meninggalkan Athena dan selama sepuluh-duabelas tahun mengembara ke mana kaki membawa.

Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Plato menghabiskan sisa umurnya yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya yang masyhur, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup mata pada usia tujuh puluh.

Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi. Tentu saja mustahil mengikhtisarkan isi semua buku itu hanya dalam beberapa kalimat. Tetapi, dengan risiko menyederhanakan pikiran-pikirannya, saya mau coba juga meringkas pokok-pokok gagasan politiknya.yang dipaparkan dalam buku yang kesohor, Republik, yang mewakili pikiran-pikirannya tentang bentuk masyarakat yang menurutnya ideal.

Bentuk terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.

Plato

Plato percaya bahwa bagi semua orang, entah dia lelaki atau perempuan, mesti disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota “guardian”. Plato merupakan filosof utama yang pertama, dan dalam jangka waktu lama nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang kelamin. Untuk membuktikan persamaan pemberian kesempatannya, Plato menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak dikelola oleh negara. Anak-anak pertama-tama kudu memperoleh latihan fisik yang menyeluruh, tetapi segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak boleh diabaikan. Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka yang kurang maju harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan menerima gemblengan latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan cuma pada mata pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang oleh Plato dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.

Pada usia tiga puluh lima tahun, orang-orang ini yang memang sudah betul-betul meyakinkan mampu menunjukkan penguasaannya di bidang teori-teori dasar, harus menjalani lagi tambahan latihan selama lima belas tahun, yang mesti termasuk bekerja mencari pengalaman praktek. Hanya orang-orang yang mampu memperlihatkan bahwa mereka bisa merealisir dalam bentuk kerja nyata dari buku-buku yang dipelajarinya dapat digolongkan kedalam “kelas guardian.” Lebih dari itu, hanya orang-orang yang dengan jelas bisa. menunjukkan bahwa minat utamanya adalah mengabdi kepada kepentingan masyarakatlah yang bisa diterima ke dalam. “kelas guardian.”

Keanggotaan guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi guardian tidaklah banyak mendapatkan duit. Mereka hanya dibolehkan memiliki harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum. Begitulah ringkasnya sebuah republik yang ideal menurut Plato.

Republik terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang dianjurkan didalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Di abad-abad belakangan ini beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut sistem pemerintahan militer, atau di bawah tiran demagog seperti misalnya Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi pada ajaran-ajaran Karl Marx, apakah dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hasil karya Plato, kendati diperbincangkan dengan penuh penghargaan, sebenarnya sepenuhnya disisihkan orang dalam praktek? Saya pikir tidak.

Memang benar, tak satu pun pemerintahan sipil di Eropa disandarkan atas model Plato secara langsung. Namun, terdapat persamaan yang mengagumkan antara posisi gereja Katolik di Eropa abad tengah dengan “kelas guardian” Plato. Gereja Katolik abad pertengahan terdiri dari kaum elite yang mempertahankan diri sendiri agar tidak layu dan tersisihkan, yang anggota-anggotanya mendapat latihan-latihan filosofis resmi. Pada prinsipnya, semua pria, tak peduli dari mana asal-usulnya dapat dipilih masuk kependetaan (meski tidak untuk wanita). Juga pada prinsipnya, para pendeta itu tak punya famili dan memang diarahkan semata-mata agar mereka memusatkan perhatian pada kelompok mereka sendiri, bukannya nafsu keagungan disanjung-sanjung.

Peranan partai Komunis di Uni Soviet juga ada yang membandingkannya dengan “kelas guardian” Plato dalam dia punya republik ideal. Di sini pun kita temukan kelompok elite yang kesemuanya terlatih dengan filosofi resmi.

Gagasan Plato juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar Konstitusi Amerika Serikat membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik untuk memerintah negara.

Kesulitan menentukan arti penting pengaruh Plato sepanjang masa –meski luas dan menyebar– adalah ruwet dipaparkan dan bersifat tidak langsung. Sebagai tambahan teori politiknya, diskusinya di bidang etika dan metafisika telah mempengaruhi banyak filosof yang datang belakangan. Apabila Plato ditempatkan pada urutan sedikit lebih rendah ketimbang Aristoteles dalam daftar sekarang ini, hal ini terutama lantaran Aristoteles bukan saja seorang filosof melainkan pula seorang ilmuwan yang penting. Sebaliknya, penempatan Plato lebih tinggi urutannya ketimbang pemikir-pemikir seperti John Locke, Thomas Jefferson dan Voltaire, sebabnya lantaran tulisan-tulisan ihwal politiknya mempengaruhi dunia cuma dalam jangka masa dua atau tiga abad, sedangkan Plato punya daya jangkau lebih dari dua puluh tiga abad.


Biografi Plato

Filosof Yunani kuno Plato tak pelak lagi cikal bakal filosof politik Barat dan sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak pelak lagi, Plato berkedudukan bagai bapak moyangnya pemikir Barat,

Plato dilahirkan dari kalangan famili Athena kenamaan sekitar tahun 427 SM. Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Tahun 399 SM, tatkala Socrates berumur tujuh puluh tahun, dia diseret ke pengadilan dengan tuduhan tak berdasar berbuat brengsek dan merusak akhlak angkatan muda Athena. Socrates dikutuk, dihukum mati. Pelaksanaan hukum mati Socrates –yang disebut Plato “orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal”– membikin Plato benci kepada pemerintahan demokratis.

Tak lama sesudah Socrates mati, Plato pergi meninggalkan Athena dan selama sepuluh-duabelas tahun mengembara ke mana kaki membawa.

Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Plato menghabiskan sisa umurnya yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya yang masyhur, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup mata pada usia tujuh puluh.

Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi. Tentu saja mustahil mengikhtisarkan isi semua buku itu hanya dalam beberapa kalimat. Tetapi, dengan risiko menyederhanakan pikiran-pikirannya, saya mau coba juga meringkas pokok-pokok gagasan politiknya.yang dipaparkan dalam buku yang kesohor, Republik, yang mewakili pikiran-pikirannya tentang bentuk masyarakat yang menurutnya ideal.

Bentuk terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.

Plato

Plato percaya bahwa bagi semua orang, entah dia lelaki atau perempuan, mesti disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota “guardian”. Plato merupakan filosof utama yang pertama, dan dalam jangka waktu lama nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang kelamin. Untuk membuktikan persamaan pemberian kesempatannya, Plato menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak dikelola oleh negara. Anak-anak pertama-tama kudu memperoleh latihan fisik yang menyeluruh, tetapi segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak boleh diabaikan. Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka yang kurang maju harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan menerima gemblengan latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan cuma pada mata pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang oleh Plato dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.

Pada usia tiga puluh lima tahun, orang-orang ini yang memang sudah betul-betul meyakinkan mampu menunjukkan penguasaannya di bidang teori-teori dasar, harus menjalani lagi tambahan latihan selama lima belas tahun, yang mesti termasuk bekerja mencari pengalaman praktek. Hanya orang-orang yang mampu memperlihatkan bahwa mereka bisa merealisir dalam bentuk kerja nyata dari buku-buku yang dipelajarinya dapat digolongkan kedalam “kelas guardian.” Lebih dari itu, hanya orang-orang yang dengan jelas bisa. menunjukkan bahwa minat utamanya adalah mengabdi kepada kepentingan masyarakatlah yang bisa diterima ke dalam. “kelas guardian.”

Keanggotaan guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi guardian tidaklah banyak mendapatkan duit. Mereka hanya dibolehkan memiliki harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum. Begitulah ringkasnya sebuah republik yang ideal menurut Plato.

Republik terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang dianjurkan didalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Di abad-abad belakangan ini beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut sistem pemerintahan militer, atau di bawah tiran demagog seperti misalnya Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi pada ajaran-ajaran Karl Marx, apakah dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hasil karya Plato, kendati diperbincangkan dengan penuh penghargaan, sebenarnya sepenuhnya disisihkan orang dalam praktek? Saya pikir tidak.

Memang benar, tak satu pun pemerintahan sipil di Eropa disandarkan atas model Plato secara langsung. Namun, terdapat persamaan yang mengagumkan antara posisi gereja Katolik di Eropa abad tengah dengan “kelas guardian” Plato. Gereja Katolik abad pertengahan terdiri dari kaum elite yang mempertahankan diri sendiri agar tidak layu dan tersisihkan, yang anggota-anggotanya mendapat latihan-latihan filosofis resmi. Pada prinsipnya, semua pria, tak peduli dari mana asal-usulnya dapat dipilih masuk kependetaan (meski tidak untuk wanita). Juga pada prinsipnya, para pendeta itu tak punya famili dan memang diarahkan semata-mata agar mereka memusatkan perhatian pada kelompok mereka sendiri, bukannya nafsu keagungan disanjung-sanjung.

Peranan partai Komunis di Uni Soviet juga ada yang membandingkannya dengan “kelas guardian” Plato dalam dia punya republik ideal. Di sini pun kita temukan kelompok elite yang kesemuanya terlatih dengan filosofi resmi.

Gagasan Plato juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar Konstitusi Amerika Serikat membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik untuk memerintah negara.

Kesulitan menentukan arti penting pengaruh Plato sepanjang masa –meski luas dan menyebar– adalah ruwet dipaparkan dan bersifat tidak langsung. Sebagai tambahan teori politiknya, diskusinya di bidang etika dan metafisika telah mempengaruhi banyak filosof yang datang belakangan. Apabila Plato ditempatkan pada urutan sedikit lebih rendah ketimbang Aristoteles dalam daftar sekarang ini, hal ini terutama lantaran Aristoteles bukan saja seorang filosof melainkan pula seorang ilmuwan yang penting. Sebaliknya, penempatan Plato lebih tinggi urutannya ketimbang pemikir-pemikir seperti John Locke, Thomas Jefferson dan Voltaire, sebabnya lantaran tulisan-tulisan ihwal politiknya mempengaruhi dunia cuma dalam jangka masa dua atau tiga abad, sedangkan Plato punya daya jangkau lebih dari dua puluh tiga abad.


Wednesday, December 22, 2010

Perjalanan Karl Marx Menjadi Iblish

Masih berusia 18, Marx telah menetapkan rencana untuk sisa hayatnya --- Ia tidak ber-utopia melakukan pelayanan bagi umat manusia, kaum proletariat, atau sosialisme. Ia hendak bekerja bagi iblis: mengutuk semua umat manusia agar jatuh ke neraka. Ia ingin menghancurkan dunia ini, membangun singgasana kerajaannya berlandaskan kegoncangan, penderitaan, dan bergejolaknya dunia.  (WIKIPEDIA)
Masih berusia 18, Marx telah menetapkan rencana untuk sisa hayatnya --- Ia tidak ber-utopia melakukan pelayanan bagi umat manusia, kaum proletariat, atau sosialisme. Ia hendak bekerja bagi iblis: mengutuk semua umat manusia agar jatuh ke neraka. Ia ingin menghancurkan dunia ini, membangun singgasana kerajaannya berlandaskan kegoncangan, penderitaan, dan bergejolaknya dunia. (WIKIPEDIA)

Sangat disayangkan, setelah mengalami suatu peristiwa gaib pada usia 18 tahun, Marx berubah menjadi seorang pengikut setan sejati. Ini terlihat jelas dari puisi konvesionalnya, panggilan anggota keluarga terhadap dirinya (iblis tercinta dan gembala), sealiran yang mengelilinginya, model rambutnya, cara Marx berdoa, menantu yang direstuinya dari aliran setan, serta pilihannya pada tanah pemakaman bagi para pengikut setan.

Jika dilihat dari data yang ada sekarang, mungkin sekali setan telah menampakkan diri di hadapannya saat ia terhanyut kegirangan dalam dunia khayal nafsu birahi dan berfoya-foya, dan itu membuat Marx percaya bahwa dialah orang pilihan setan sebagai pewarta di tengah umat manusia. Misinya membangkitkan si raja teror, dengan bujuk rayunya mengenai “kehidupan yang bahagia”, dengan membuat umat manusia berdalih “tidak percaya Tuhan” dan kemudian “menentang Tuhan” sehingga terjerumus ke dalam neraka.

Sejak 200 tahun yang lalu Marx dipilih setan, lalu siapa yang dipilih setan pada kehidupan kali ini? Di dalam karya sastranya, Marx secara jelas telah menyatakan, bahwa para pengikut partai komunis “akan menemui Marx setelah mati”, mereka semua akan diberi tanda, dan mulai saat ini mereka semua akan masuk neraka “untuk menemani saya”.

Siapa yang tidak berharap akan masa depan yang cerah? Rakyat Tiongkok yang telah diracuni paham komunis Marxis Leninis, kini sedang berada dalam belas kasih para Dewa dan Buddha untuk bertobat…

Jenderal Sergius Riis warga AS yang merupakan salah seorang pengagum Karl Marx, secara khusus mendatangi kediaman Marx di London setelah Marx meninggal dunia. Semua keluarga Marx sudah pindah dari sana, satu-satunya yang dapat ditemuinya saat itu hanyalah pembantu Marx bernama Helen.

Fakta yang dikatakan Helen sungguh mengejutkan Riis: “Ia seorang yang sangat taat pada Tuhan. Saat sakit keras, ia mengurung diri di dalam kamar, membebat kepalanya dengan kain, dan berdoa sambil menghadap sebaris lilin yang menyala.” Jenderal AS ini ragu: kepada siapakah Karl Marx berdoa? Mana ada ritual keagamaan yang aneh seperti itu?

Sepenggal kalimat ini diterjemahkan dari buku yang berjudul Marx and Satan (Marx dan Setan) karya Von Richard Wurmbrand yang diterbitkan pada 1986, oleh penerbit Living Sacrifice. Artikel tersebut mengacu pada sejumlah artikel lainnya yang berasal dari situs www.marxists.org yang berjudul “Pengultusan Marx - Berasal Dari Satanisme”, Was Karl Marx A Satanist? (Apakah Marx Seorang Pengikut Setan?), dan lain-lainnya.

Awalnya umat Kristiani

Pada awalnya Marx merupakan umat Kristen. Pada salah satu bait AlKitab “Johannes 15 : 1-14 Manunggal: Makna Menjadi Satu, Keharusan dan Dampaknya”, ia menulis: “menjadi satu dengan Kristus, yakni di tengah persahabatanNya yang akrab dan menyegarkan, di tengah kenyataan seperti ini: Ia selalu ada di hadapan kita dan di dalam hati kita.”

Ayahnya pengacara senior Henry Marx menggantungkan harapan sangat besar terhadap putra berbakatnya Karl Marx. Rolv Heuer di dalam bukunya yang berjudul “Genius dan Hartawan” mengatakan: “Pengacara senior Henry Marx memberikan 700 uang perak setiap tahunnya kepada Karl Marx sebagai uang jajannya sewaktu di perguruan tinggi, sementara di saat itu sangat sedikit orang yang memiliki pendapatan tahunan melebihi 300 uang perak.”

Mahasiswa dari kalangan darah biru seperti dirinya tentu sulit untuk menjalani penderitaan hidup sesuai doktrin Kristen. Victor Hugo dalam buku Les Miserables (Tragedi Dunia) pernah menggambarkan sekelompok mahasiswa yang berhura-hura semasa studi mereka, padahal kekuatan finansial para mahasiswa tersebut masih kalah jauh dibandingkan Marx.

Kehidupannya di perguruan tinggi yang glamour membuat Marx merasa terkekang dengan segala larangan di dalam agama ortodoks, ia mendambakan seks bebas sejati, dan bersamaan dengan itu suatu aliran setan yang diam-diam menyebar di dataran Eropa tepat memenuhi keinginannya itu. Marx pun menghamburkan uangnya untuk berhura-hura, sehingga terlibat perselisihan tiada berkesudahan dengan kedua orang tuanya, hilangnya rasa kekeluargaan, jiwa yang hampa, sehingga menjerumuskannya ke dalam jerat organisasi rahasia pengikut setan.

Bergabung aliran sesat

Tak lama setelah itu, suatu peristiwa gaib terjadi. Dalam suatu naskah yang ditulisnya di masa kuliah, terdapat jawabannya. Naskah itu berjudul Oulanem.

Di dalam aliran setan ada suatu ritual persembahan yang disebut pertemuan hitam. Pemimpin ritual tersebut akan membaca mantera di tengah malam. Lilin hitam akan diletakkan terbalik di altar persembahan, pemimpin ritual mengenakan jubah hitam secara terbalik, dan membaca sesuai buku mantera, namun urutan pembacaan sama sekali terbalik, termasuk nama Yesus, Maria, dan nama suci lainnya semua dibacakan terbalik. Sebuah salib diletakkan terbalik atau diinjak di bawah telapak kaki, sebuah alat yang dicuri dari gereja diukirkan nama setan, guna pencegahan pemalsuan.

Di tengah “pertemuan hitam” ini, sebuah Alkitab akan dibakar. Lalu semua peserta ritual akan bersumpah untuk melakukan 7 dosa besar yang dilarang dalam agama Kristiani, dan selamanya tidak akan berbuat baik. Lalu mereka akan berpesta melampiaskan hawa nafsu.

Oulanem ialah nama suci Emmanuel yang ditulis secara ngawur dan terbalik. Emmanuel sendiri merupakan salah satu nama Yesus di dalam Alkitab, yang artinya “Tuhan beserta kita” di dalam bahasa Hibrani. Aliran iblis hitam berpendapat bahwa penulisan terbalik seperti ini lebih efektif. Dalam puisi Sang Pemeran di dalam buku Oulanem, Marx menuliskan pengakuan yang aneh sebagai berikut:

“Hawa neraka menguap dan memenuhi otak saya, hingga saya menggila, hati saya berubah sama sekali. Lihat pedang ini? Raja Kegelapan menjualnya kepada saya, ia memecut waktu bagi saya, dan memberikan tanda pada saya, tarian kematian saya bawakan dengan semakin nekat.”

Dari tulisan ini semakin jelas menunjukkan bahwa Marx telah menandatangani kontrak dengan setan.

Perkataan ini memiliki makna khusus: di tengah ritual penghubung dalam aliran setan, sebilah pedang yang telah disihir dan dapat memastikan suatu keberhasilan, akan dijual kepada sang penghubung. Lalu yang harus dibayar oleh sang penghubung adalah menandatangani perjanjian dengan setan menggunakan darah yang berasal dari urat nadinya sendiri, sehingga setelah ia mati nanti, maka arwahnya akan menjadi milik setan.

Seorang penganut Marxisme bernama Franz Mehring dalam bukunya berjudul Karl Marx menulis, “Henry Marx sama sekali tidak mengira bahwa kekayaan bertumpuk yang diwariskannya pada Karl Marx akan membantu mewujudkan hal yang paling ditakutinya, namun samar-samar ia sepertinya telah menyadari bahwa putra kesayangannya telah dirasuki iblis.”

2 Maret 1837, ayah Karl Marx mengirim surat yang mengatakan: “Saya pernah mendambakan suatu hari nanti engkau akan membawa nama besar dan meraih keberhasilan, namun ini bukanlah satu-satunya harapan di dalam hati saya. Semua ini pernah menjadi harapan jangka panjang saya, namun kini saya beritahu padamu, terwujudnya harapan tersebut tidak akan membuat saya bahagia. Hanya dengan menjaga kesucian hatimu, berdetak dengan penuh sifat kemanusiaan, tidak membiarkan hatimu dirasuki setan, hanya dengan demikian dapat membuat saya bahagia.”

Akhirnya saat di perguruan tinggi Marx bergabung dengan Gereja Setan pimpinan Joanna Southcott, dan menjadi pengikutnya. 10 November 1837, ia membalas surat ayahnya:

“Selapis cangkang luar telah terkelupas, sisi yang suci pada diri saya terpaksa meninggalkan saya, suatu arwah baru pasti akan menggantikannya. Suatu kegilaan yang sesungguhnya telah menguasai saya, saya tidak dapat menenangkan roh jahat ini.”

Hendak musnahkan manusia

Berikut ini kutipan naskah Oulanem :

“Kedua lengan muda saya telah dipenuhi dengan kekuatan, dengan terjangan dahsyat akan menggenggam dan menghancurkanmu - wahai manusia. Di tengah kegelapan, pintu neraka tanpa dasar terbuka bagi kau dan aku, kau akan jatuh ke dalamnya, aku akan tertawa terbahak dan mengikutimu, dan berbisik di telingamu: turunlah dan temani aku, kawan!”

Dalam Alkitab yang dipelajari Marx di sekolah menengah dikatakan, iblis dijebloskan ke dalam neraka tanpa dasar oleh seorang malaikat (Alkitab – Wahyu 20:3). Neraka tanpa dasar ini dipersiapkan bagi iblis dan para malaikat yang berubah jahat, dan Marx justru hendak menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam neraka ini.

Dari perkataan pemuda ini kita memiliki dalih untuk berpikir demikian: ia memimpikan umat manusia akan terjerumus ke dalam neraka tanpa dasar, sementara ia sendiri, akan tertawa terbahak dan mengikuti para manusia tak ber-Tuhan yang tertipu oleh paham ateis itu. Selain sang penghubung dalam Gereja Setan, di dunia ini tidak ada tempat yang memiliki pemikiran seperti ini.

Setelah Oulanem mati, Marx menulis: “Hancur, hancur. Waktuku telah tiba. Jam berhenti berdetak, bangunan kecil itu telah runtuh. Aku akan segera merangkul keabadian, dan seiring dengan suatu auman liar, akan terucap kutukan kepada seluruh umat manusia.”

Saat menulis Oulanem, Marx masih berusia 18 tahun. Waktu itu rencana hidupnya yang telah digariskannya sudah sangat jelas. Ia tidak berangan-angan untuk bekerja melayani umat manusia, kaum proletariat, ataupun sosialisme, ia hanya ingin bekerja bagi iblis; mengutuk manusia agar terjerumus ke dalam neraka. Ia hendak menghancurkan dunia ini, membangun singgasana kerajaannya dengan berlandaskan kegocangan, penderitaan, dan bergejolaknya dunia.

Marx sangat menyukai kata-kata iblis jahat Mephistopheles dalam The Fused dari Goethe:

“Segala sesuatu yang eksis seharusnya dimusnahkan.” Segala sesuatu - termasuk para buruh dan orang-orang yang berjuang demi paham komunisme itu sendiri. Marx sangat suka mengutip perkataan itu, sementara Stalin justru menjalankannya dengan setia, bahkan rela menghancurkan keluarganya sendiri.

Kita mulai memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada pemuda bernama Karl Marx ini. Dulunya ia pernah mempunyai idealisme dalam agama Kristen, namun sama sekali tidak melaksanakannya. Dalam korespondensi dengan sang ayah membuktikan, ia telah menghamburkan banyak uang untuk berfoya-foya, yang menyebabkan keretakan hubungan dengan kedua orang tuanya serta bentrok dan konflik tiada akhir.

Dalam keadaan seperti ini, ia telah terjerumus ke dalam jerat organisasi pengikut organisasi ajaran setan, dan sudah pernah menjalani ritual persembahan. Setan dapat menampakkan diri di dalam halusinasi para pengikutnya saat mereka sedang melampiaskan nafsu dan kegilaan mereka, dan dapat berbicara melalui mulut mereka. Saat Marx mengatakan: “Saya akan membalas dendam pada Tuhan”, nyata sekali bahwa ia telah menjadi juru bicara setan.


Di zaman Marx, kaum pria umumnya memelihara kumis, namun bentuk kumis mereka berbeda dengan Marx, dan tidak berambut gondrong. Penampilan Marx waktu itu adalah simbol pengikut setia Joanna Southcott, pemimpin perempuan dalam organisasi pengikut ajaran setan. Meskipun partai komunis mengklaim sebagai ateis, namun sejak awal hingga akhir Karl Marx sendiri adalah umat Kristiani yang taat. Sampai usia 17 tahun ia adalah seorang umat Kristiani dan dalam karya tulis kelulusan SMA ia menulis: “Jika tidak ada kepercayaan terhadap Tuhan, dan tidak sejalan dengan Kristus, maka umat manusia tidak akan memiliki moralitas sempurna, dan tidak akan merasa puas dalam mengejar kebenaran dan pencerahan.” Hanya Tuhanlah yang dapat menyelamatkan kita.” (WIKIPEDIA)
Paham sosialisme hanyalah perangkap setan

Setelah Marx merampungkan Oulanem dan sejumlah puisinya di masa awal (di dalam puisinya Marx sendiri mengaku telah menandatangani kontrak dengan iblis), bukan saja ia tak memiliki konsep sosialisme, bahkan ia menentang keras paham tersebut.

Waktu itu ia adalah redaktur utama Rheinische Zeitung dalam bahasa Jerman, media cetak ini “sama sekali tidak menolerir paham komunis dalam bentuk apa pun bahkan hanya sekedar teori sekalipun, apalagi menerapkannya? Bagaimana pun juga hal ini sama sekali tidak mungkin…”

Tapi setelah itu, Marx bertemu dengan Moses Hess. Orang ini memainkan peran paling penting dalam kehidupan Marx, dialah yang membawa Marx pada konsep pemikiran paham sosialisme. Dalam sepucuk suratnya kepada B. Auerbach (1841), Hess menyebutkan bahwa Marx adalah “paling agung bahkan mungkin satu-satunya, tokoh filosofi muda (24) yang akan memberikan pukulan telak terhadap agama dan ilmu filsafat.”

Bisa dilihat, tujuan utamanya adalah menyerang agama dan bukan mewujudkan paham sosialisme. Kenyataannya, Marx sangat membenci segala sesuatu yang bersifat Ketuhanan, dan tidak ingin mendengar kata-kata Tuhan. Paham sosialisme hanyalah suatu perangkap untuk memancing para kaum proletariat dan kaum cendekia untuk mewujudkan idealisme setan saja.

Seorang teman Marx lainnya yakni Georg Jung pada 1841 secara lebih jelas lagi menuliskan, Marx pasti akan mengusir Tuhan dari surga, dan bahkan akan menggugat Tuhan. Pada akhirnya Marx secara konsekwen tidak mengakui keberadaan Sang Pencipta. Dan jika Sang Pencipta tidak eksis, maka tidak akan ada lagi orang yang akan membuat larangan terhadap kita, sehingga tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun. Manifesto Marx “pengikut komunisme sama sekali tidak mempropagandakan moral” memastikan hal ini.

Di zaman Marx, kaum pria umumnya memelihara kumis, namun bentuk kumis mereka berbeda dengan Marx, dan tidak berambut gondrong. Penampilan Marx waktu itu adalah simbol pengikut setia Joanna Southcott, pemimpin perempuan dalam organisasi pengikut ajaran setan. Ia mengaku bisa berkomunikasi dengan Shiloh si iblis jahat. Ia meninggal pada 1814, dan 60 tahun kemudian, seorang aktivis bernama James White, mengembangkan doktrin Joanna, dengan memberikan bumbu-bumbu paham komunisme di dalamnya.

Marx agak jarang membicarakan masalah metafisika secara terbuka, tapi dari orang-orang yang berhubungan dengannya dapat kita kumpulkan informasi mengenai pandangannya. Marx dan seorang pengikut anarkisme dari Rusia yang bernama Mikhail Bakunin bersama-sama membentuk “Internasional Pertama”. Bakunin menulis:

“Pemimpin iblis itu adalah setan pemberontak terhadap Tuhan. Di dalam pemberontakan itu, kebebasan umat manusia akan terjadi di mana-mana, itulah revolusi. Para pengikut paham sosialisme bersemboyan: ‘atas nama pemimpin yang diperlakukan salah’. Setan, sebagai pemberontak sejati, adalah penyelamat dunia dan pemikir paham kebebasan pertama, setan membuat manusia merasa malu dengan ketidak tahuan dan kepatuhan mereka; setan membebaskan manusia, memberi tanda kebebasan dan kemanusiaan di kening setiap manusia, membuat manusia memberontak dan memakan buah pengetahuan.”

Bakunin tidak hanya memuja Lucifer, ia juga memiliki rencana revolusi yang konkrit, akan tetapi rencana ini tidak akan bisa membebaskan rakyat miskin yang terus diperas. Ia menulis: “Di tengah revolusi ini, kita harus membangunkan iblis jahat di dalam diri setiap manusia, agar dapat membangkitkan emosi yang paling bengis dalam diri mereka. Misi kita adalah menghancurkan, dan bukan membimbing mereka. Gairah akan kehancuran adalah gairah yang inovatif.” (The Epoch Times/lie)



Semua teman dekatnya pengikut setan
Proudhon, seorang pemikir paham sosialis penting lainnya, di saat yang sama juga merupakan teman Marx, yang sama-sama memuja iblis. Model rambut dan jenggot Proudhon mirip dengan Marx, dan Proudhon juga menulis karya yang menghujat Tuhan dan memuja iblis.

KIRI: Sketsa Heinrich Heine saat sakit, pada 1851.   KANAN: Lukisan Pierre-Joseph Proudhon, karya Gustave Courbet.  (WIKIPEDIA)
KIRI: Sketsa Heinrich Heine saat sakit, pada 1851. KANAN: Lukisan Pierre-Joseph Proudhon, karya Gustave Courbet. (WIKIPEDIA)

Sastrawan terkenal Jerman, Heinrich Heine, adalah seorang teman dekat Marx lainnya. ia juga seorang pemuja iblis. Ia menulis: “Aku memanggil iblis, maka iblis pun datang, dengan terheran-heran, aku perhatikan wajahnya; si iblis tidak jelek, juga tidak ada yang cacat, ia seorang pria yang manis dan menarik.”

Marx sangat mengagumi Heinrich Heine. Hubungan mereka sangat erat. Mengapa Marx begitu memuja Heine? Mungkin juga karena pemikiran setannya sebagai berikut:

“Aku mempunyai suatu angan. Di depan rumahku ada sebuah pohon yang indah, jika Tuhan tercinta membuatku bahagia, maka Ia seharusnya memberiku kebahagiaan seperti ini: membuat saya dapat melihat beberapa musuh saya digantung mati di pohon itu. Dengan hati penuh belas kasihan, setelah mereka mati, aku akan mengampuni semua kesalahan yang pernah mereka perbuat padaku. Ya, kita memang harus mengampuni semua musuh kita, namun bukan sebelum mereka digantung mati.”

Seseorang yang baik dan lurus, akankan memilih orang se-perti ini sebagai teman dekatnya? Namun semua orang yang ada di sekitar Marx adalah orang yang demikian. Lunatcharski, seorang filsuf Kementrian Pendidikan Uni Soviet, dalam tulisannya, “Paham Sosialis dan Kepercayaan” pernah menuliskan: Marx telah membuang segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Tuhan, dan telah menempatkan iblis di depan barisan proletariat yang sedang berjalan maju.”

Ingin disejajarkan dengan Tuhan

Putri kesayangan Marx, Eleanor, atas persetujuan Marx menikahi Edward Eveling. Padahal Eveling pernah menulis naskah pidato berjudul “Kejahatan Tuhan”. (Tepatnya inilah yang dilakukan para pengikut iblis. Berbeda dengan penganut ateis, mereka tidak menyangkal keberadaan Tuhan. Selain menipu orang, mereka sendiri tahu persis bahwa Tuhan itu ada, hanya saja mereka mengatakan Tuhan itu jahat.) Berikut kalimat dalam puisi mereka yang mengungkapkan niat mereka memuja iblis:

Kepadamu, kuberanikan diri mempersembahkan puisi ini. Oh, iblis, raja pesta yang akan segera naik tahta!

Oh, pendeta, kuhindar jauh percikan air dan ceramahmu, karena iblis selamanya tidak berada di belakangmu.

Ibarat angin yang bersayap, ia merampas para umat, oh, iblis yang agung!

Pujalah, demi sang pembela yang agung ini!

Bakar dupa, bersumpah, persembahkan padamu, kau seret turun Tuhan si pendeta dari tahta kerajaannya!

Informasi lainnya terdapat dalam surat yang ditulis putra Marx bernama Edgar pada 21 Maret 1854. Pembukaan surat itu saja sudah sangat mengejutkan: “Iblisku tercinta”. Bagaimana mungkin seorang putra menyebut ayahnya dengan panggilan kurang ajar seperti itu? Akan tetapi, begitulah para pengikut setan memanggil orang-orang yang mereka cintai. Apakah putranya sudah menjadi pengikut setan?

Fakta penting lainnya adalah, istri Marx pada Agustus 1844 pernah menulis padanya dengan mengatakan: “Surat terakhir pendetamu, pendeta tertinggi sekaligus pemilik arwah, berikanlah damai dan ketenangan pada gerombolan dombamu yang mengenaskan ini.”

Di dalam “Deklarasi Paham Komunis”, Marx secara jelas menyatakan bahwa dirinya hendak membasmi semua agama, namun istrinya justru menyebutnya sebagai pendeta tertinggi dan pemimpin aliran, pendeta dan pemimpin aliran yang mana yang dimaksud di sini? Mengapa harus menulis surat pendeta kepada seorang penganut paham ateis seperti ini? Dimana surat-surat itu? Kehidupan Marx dalam periode ini belum dieksplorasi.

Dalam puisinya berjudul Human Pride, Marx mengakui bahwa tujuannya bukanlah memperbaiki, memperbaiki kumpulan, atau memperbaharui dunia, akan tetapi adalah menghancurkan dunia, dan bergembira karenanya:

Dengan membawa cemooh, wajahku di dunia, melemparkan tangan besi ke segala penjuru, sambil melihat keruntuhan benda besar yang seperti orang kerdil itu, namun keruntuhan mereka tidak akan memadamkan emosi di dalam diriku.

Waktu itu, aku akan berlalu di tengah puing-puing reruntuhan dunia ibarat Tuhan yang berjalan dengan kemenangan.

Saat perkataanku mendapat kekuatan yang sangat besar, aku akan merasakan aku sederajat dengan Sang Pencipta.

Apakah hanya puisi ini yang menampakkan pikiran iblis Marx? Kita tidak tahu, karena para pelindung naskah karya-karya Marx masih menjaga rahasia dengan ketat terhadap semua kar-ya Marx yang berjumlah besar.

Albert Camus dalam bukunya Revolusioner mengatakan:

Marx dan Friedrich Engles memiliki 30 jilid karya tulis yang belum diterbitkan, ungkapan pemikiran kelancangan di dalam karya tersebut, tidak seperti paham Marx yang diketahui khalayak ramai. Membaca karya tersebut, saya meminta agar sekretaris saya mengirim surat ke Institut Marx di Moskow, untuk mencari tahu kebenaran atas perkataan penulis Prancis ini. Saya pun mendapat balasan. Dalam surat tersebut wakil dekan Institut Marx bernama Profesor M. Mtchedlov berkata bahwa Camus salah. Karya Marx mencapai lebih dari 100 jilid, hanya 13 jilid di antaranya yang dicetak untuk umum. Ia mencari suatu alasan yang tidak masuk akal atas hal ini, yakni: PDII telah menghambat terbitnya buku-buku lain. Surat itu ditulis pada 1980, yakni 25 tahun setelah berakhirnya PDII, waktu itu di Uni Soviet bahkan bar dan pengalengan ikan milik negara pun memiliki uang berlimpah.

Hidup kacau

Semua pengikut iblis yang aktif pasti memiliki kehidupan yang kacau balau, Marx juga tidak luput.

Arnold Kunzli dalam buku Cita-Cita Karl Marx menulis: dua putri dan seorang menantu Marx bunuh diri, sementara 3 orang anak lainnya mati karena kurang gizi. Putri Marx yang bernama Laura menikahi seorang paham sosialis bernama Paul Lafargue, ia mengubur sendiri 3 anak darah dagingnya, lalu bunuh diri bersama dengan suaminya. Putri Marx lainnya, Eleanor, memutuskan melakukan hal yang sama bersama suami, putrinya tewas, namun sang suami Edward menciut nyalinya di saat-saat terakhir.

Marx dan pembantu rumah tangganya, Helen Demuth, memiliki seorang anak haram, kemudian Marx melimpahkan tuduhan itu adalah anak Engels, dan Engels pun menerima hal itu. Marx juga kecanduan alkohol - Dekan Ria-zanov dari Institut Marx-Engels di Moskow dalam buku berjudul Karl Marx, Mai, pemikir dan revolusioner mengakui fakta ini.

Marx, sang revolusioner yang agung, masih memiliki banyak cacat yang lebih parah lagi.

Pada 9 Januari 1960, koran Jerman Reichsruf pernah memberitakan suatu fakta: PM Austria Raabe pernah memberikan surat tulisan tangan Karl Marx kepada pemimpin Uni Soviet Nikita Krushchev. Krushchev sangat tidak suka, karena surat itu membuktikan bahwa Marx pernah menjadi informan rahasia bagi polisi Austria dengan diberi imbalan, Marx adalah mata-mata yang menjadi musuh dalam selimut dalam kelompok revolusioner.

Surat ini ditemukan secara tidak sengaja di Gedung Arsip Rahasia. Surat itu membuktikan bahwa Marx adalah pembocor rahasia, dan ia pernah mengadukan rekan-rekannya saat di pengasingan di London. Tiap kali Marx memberikan suatu informasi, ia mendapatkan imbalan sebesar 24 Pounsterling.

Informasi yang diberikannya berkaitan dengan para revolusioner yang diasingkan di London, Paris, dan juga Swiss. Salah seorang yang dikhianatinya adalah Ruge, ia sendiri mengaku sebagai teman baik Marx. Hubungan surat menyurat yang hangat antara keduanya hingga saat ini masih tersimpan baik sebagai bukti.

Marx sama sekali tidak merasa ia berkewajiban menghidupi keluarganya, meski dengan kemampuannya menguasai banyak bahasa, Marx dengan mudah dapat melakukan hal ini. Sebaliknya ia terus mengemis pada Engels untuk bertahan hidup. Menurut data dari Institut Marx, selama hidupnya Marx telah menguras sekitar 6 juta Franc dari Engels.

Meskipun demikian, Marx tetap menerima warisan dari keluarganya. Saat salah seorang pamannya sedang sekarat, Marx menulis: “Seandainya anjing itu mati, maka tidak ada lagi yang bisa menghalangi saya.”

Sementara terhadap orang yang lebih dekat dibanding pamannya, Marx sama sekali tidak memiliki belas kasih. Bahkan saat membicarakan ibunya juga demikian. Dalam suratnya kepada Engels pada Desember 1863, Marx menulis:

“Dua jam lalu aku menerima teleks, mengenai kematian ibuku. Takdir harus membawa pergi seorang anggota keluarga. Satu kakiku sudah di dalam kuburan, dalam banyak situasi, yang aku butuhkan bukan seorang perempuan tua, tapi juga yang lainnya. Aku harus pergi ke Trier untuk mendapatkan warisan.”

Hanya itu yang ingin dikatakan Marx atas kematian ibunya. Selain itu, ada bukti kuat yang membuktikan betapa buruknya hubungan Marx dengan istrinya. Sang istri dua kali meninggalkannya, namun kemudian kembali lagi. Setelah istrinya meninggal, Marx bahkan tidak menghadiri pemakamannya.

Marx yang selalu butuh uang, mengalami kerugian besar dalam transaksi saham. Sebagai ekonom yang agung, ironisnya Marx hanya tahu cara kehilangan uang.

Hanya San Tui dapat ubah nasib “Temani Aku Di Bawah”

Seorang pria tua yang mempelajari ilmu ilmiah dan merupakan seorang anggota partai, dimutasi ke kampung halaman di Sichuan, RRT. Setelah setengah hayat menjabat sebagai ketua kelompok riset paham Marxisme, ia merekomendasikan situs internet www.marxists.org dan juga buku berjudul Marx and Satan kepada teman saya.

Pak tua itu berkata, “Saya ketakutan sampai berkeringat dingin! Ternyata selama ini saya telah bergabung dengan aliran iblis!”

Data diunduh dari situs, lalu seluruh anggota keluarganya melakukan San Tui (Tiga pengunduran diri dari Partai Komunis dan segala organisasi yang terkait). Pak tua menganjurkan teman saya itu, “Jika tidak ingin menjadi ‘teman’ Marx, mengundurkan diri dari partai secara otomatis setelah tidak membayar iuran saja tidak cukup, jika hendak mengubah nasib ‘menemaniku di bawah’, harus paham dulu Karl Marx itu, dan secara total putus hubungan dengannya.”

Sejumlah staf tua sepertinya telah menyangkal Marx, maka arwahnya akan terbuang, menganggap menemui Marx setelah mati sebagai suatu kehormatan, mereka tidak tahu bahwa Marx menganggap kaum proletariat sebagai orang bodoh, dan menyebut karyanya sendiri sebagai kotoran.

Sebelum Engels terpengaruh oleh Marx, dalam bukunya The Magyar Struggle menuliskan: “Karl Marx yang berpura-pura berjuang demi kaum proletariat, telah menyebut kaum tersebut sebagai ‘orang bodoh, begundal, dan bokong’.” Filsof Tiongkok kuno Zhuang Zi berkata: “Lama di dalam cangkang kerang, tidak akan tercium amisnya.” Maka betapa bodoh dan tercemarnya jika orang memuja buku “kotoran” tersebut sebagai kitab berharga!

Sepengetahuan saya, di antara para penulis terkenal, hanya Karl Marx satu-satunya penulis yang mengatakan bahwa karyanya itu adalah “kotoran” dan “buku yang jorok”. Ia sendiri merasa dan memang berniat memberikan karya yang kotor kepada pembacanya. Tidak heran para pengikutnya, seperti partai komunis di Rumania dan Mozambique, memaksa tahanannya memakan kotorannya sendiri. (The Epoch Times/lie)


Mungkin Anda mencari

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Label

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons